Tumbuhkan Cinta Budaya Jawa, Denok Ayu Dirikan Sanggar dan Konsisten Ajarkan Seni Tradisi pada Anak Didik

M. Khoirudin
30 Dec 2025
73 dilihat

Tumbuhkan Cinta Budaya Jawa, Denok Ayu Dirikan Sanggar dan Konsisten Ajarkan Seni Tradisi pada Anak Didik

Bojonegorokab.go.id - Lestari Sahsa Malika, yang akrab disapa Denok Ayu Lestari, adalah sosok perempuan yang menjadikan seni tradisi sebagai jalan pengabdiannya. Sebagai guru Bahasa Jawa di SMPN 1 Balen dan guru PAUD di KB Tunas Harapan Ngadiluhur (Balen), ia menjalani hari-harinya bukan hanya untuk mengajar saja. Akan tetapi membimbing, membentuk budi pekerti, dan menumbuhkan kembali kecintaan pada budaya Jawa di hati generasi muda.

Selain mengajar di sekolah, Lestari mendirikan Sanggar SUMILAK, sebuah ruang kecil penuh semangat yang bergerak di bidang pelatihan seni baca puisi/geguritan, tembang macapat, tembang dolanan, drama berbahasa Jawa, hingga pelatihan menulis. Di sanggar tersebut juga dibuka perpustakaan mini untuk anak-anak desa. Kegiatan pelatihan tidak selalu terjadwal, namun menjadi tempat persiapan utama saat ada lomba-lomba kesenian.

“Setiap materi yang saya ajarkan, saya selipkan nilai indahnya seni Jawa baik lewat macapat, tembang kreasi, maupun ludruk. Tapi yang terpenting adalah unggah-ungguh sopan santun, terutama lewat basa krama sederhana sesuai usia mereka,” tutur Lestari.

Namun perjalanan menjaga warisan budaya tidak selalu mudah. Lestari sering menghadapi sikap anak-anak yang belum memahami makna seni tradisi. “Kadang saat saya nembang, mereka mengetuk-ngetuk meja atau tertawa. Begitu juga ketika saya membacakan geguritan,” kenangnya.

Alih-alih marah, ia memilih jalan yang lembut dengan menjelaskan makna, asal-usul, dan filosofi setiap tembang. Ia memberi contoh, seperti “Kidung Rumeksa Ing Wengi” karya Sunan Kalijaga sebuah karya spiritual yang lahir dari pendekatan budaya untuk dakwah. Dari situ, para siswa mulai memahami bahwa tembang tradisional bukan sekadar nyanyian, tetapi rangkaian kisah hidup manusia dari lahir hingga akhir hayat.

“Setelah dijelaskan, mereka akhirnya paham dan mengikuti pelajaran dengan baik,” ujarnya.

Ketekunan Lestari pun membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, para siswanya meraih berbagai prestasi. Pada Minggu, 26 Oktober 2025, salah satu peserta didiknya meraih juara 3 lomba geguritan di KDS yang diadakan KKI Komunitas Kain Kebaya Indonesia. Menyusul kemudian, Kamis, 30 Oktober 2025, siswa SMPN 1 Balen binaannya juga menyabet juara 2 dan juara 3 Lomba Bertutur Dialog Bojonegaran yang digelar Perpusip Bojonegoro. Tak hanya itu, pentas drama Jawa dan kegiatan nembang lainnya juga selalu didukung penuh oleh para siswa.

Prestasinya bukan hanya milik murid-muridnya. Lestari sendiri pernah meraih juara 2 Lomba Sambutan Basa Jawa yang diadakan Darma Wanita Persatuan SMA/SMK/PKLK Cabdin Wilayah Bojonegoro. Baginya, hal itu menjadi penyemangat untuk terus belajar dan berkarya.

Di balik semua aktivitas itu, Lestari menyimpan harapan besar. “Saya ingin anak-anak punya adab yang baik sejak dari rumah dan sekolah. Mereka tidak malu menjadi orang Jawa, mampu menggunakan basa krama sesuai empan papan, dan punya kesadaran untuk melestarikan budaya leluhur yang adi luhung,” ungkapnya.

Ia juga menitipkan pesan kepada para pendidik agar tidak pernah berhenti menanamkan karakter luhur kepada anak-anak. Menurutnya, guru harus menjadi pelita yang menuntun perjalanan mereka, sehingga kelak tumbuh sebagai generasi yang tangguh, berbudaya, dan berakhlakul karimah.

Dalam sosok Denok Ayu Lestari, kecintaan terhadap budaya tidak hanya diajarkan tetapi hidup, tumbuh, dan menyebar dari kelas ke kelas, dari desa kecil di Balen menuju masa depan generasi muda Bojonegoro.[zul/nn]