Bambang Sutrisno Merawat Ajaran Samin untuk Kehidupan Masyarakat yang Lebih Baik

M. Khoirudin
03 Jan 2026
132 dilihat

Bambang Sutrisno bersama Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan para sesepuh masyarakat Samin

Bojonegorokab.go.id - Di tengah arus modernisasi, Bambang Sutrisno tetap melangkah dengan tenang. Sebagai generasi kelima sedulur sikep atau komunitas masyarakat Samin di Bojonegoro, ia memikul warisan nilai yang tak lekang oleh waktu. Yakni kejujuran, kesabaran, kerja sungguh-sungguh, dan keikhlasan. Nilai-nilai itulah yang baru-baru ini mendapat pengakuan nasional melalui Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori masyarakat adat.

Bagi Bambang Sutrisno, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi pribadi. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai sebuah anugerah sekaligus kepercayaan dari negara kepada para penerus ajaran Samin. “Ini adalah bentuk apresiasi pemerintah kepada kami sebagai generasi penerus Ajaran Samin. Kami bangga bisa menjadi bagian dari anugerah kebudayaan Indonesia,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, tantangan terbesar ajaran Samin di era modern bukanlah soal zaman, melainkan bagaimana nilai-nilai itu diterapkan secara konsisten, terutama oleh generasi muda. Ia menegaskan, jika pitutur atau ajaran Samin benar-benar dijalankan, sejatinya tidak ada tantangan berarti. Ajaran itu telah mengajarkan laku hidup yang jelas dan praktis yakni jujur, sabar, trokal, dan narima. Trokal dimaknai sebagai usaha yang sungguh-sungguh, sementara narima berarti menerima hasil dengan ikhlas. 

“Kalau kita sudah jujur, sabar, dan berusaha, apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada,” ujarnya. Bahkan ketika nilai-nilai itu tidak sepenuhnya dipahami atau diterima oleh orang lain, ajaran Samin mengajarkan untuk tetap ikhlas, baik saat dipuji maupun ketika dikritik.

Bambang Sutrisno adalah anak dari Mbah Hardjo Kardi, generasi keempat dari pendiri ajaran Samin, yakni Samin Surosentiko. Ia dan keluarga tinggal di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Menurut dia, kesederhanaan dan perlawanan tanpa kekerasan menjadi ciri kuat ajaran Samin. Ajaran ini bersifat universal dan tidak bertentangan dengan agama apa pun. 

Lima tuntunan utama menjadi pegangan hidup dengan tidak mengambil hak orang lain, tidak membeda-bedakan sesama karena semua adalah saudara, berpikir sebelum berbicara, serta memiliki empati dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum berbuat. “Ajaran Samin ini adalah sifat dasar manusia. Kita semua sudah dibekali watak itu sejak lahir, tinggal bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya. 

Karena itu, baginya, menjadi Samin bukanlah sesuatu yang istimewa. Semua manusia lahir setara, dengan tujuan yang sama yakni mencari ketenteraman hidup. Dan dalam upaya pelestarian, Bambang Sutrisno juga mengapresiasi peran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang dinilainya sangat luar biasa. Kebijakan penggunaan udeng dan pakaian adat Samin bermotif Obor Sewu oleh ASN dinilai membawa dampak besar. Dari yang semula tidak mengenal Samin, kini banyak orang mulai bertanya, ingin tahu, dan akhirnya memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Motif Obor Sewu sendiri, menurutnya, bukan sekadar ornamen. Sejak 2019, motif ini disepakati sebagai identitas yang tidak diperjualbelikan secara bebas, agar siapa pun yang mengenakannya memiliki kebanggaan dan cerita bagi yang pernah datang dan mengenal Samin. Melalui kebijakan pemerintah daerah, makna itu kini menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Di penghujung 2025, Bambang Sutrisno menyebut dirinya hanyalah simbol. Penghargaan AKI 2025 dari Menteri Kebudayaan, menurutnya, adalah hasil peran banyak pihak yakni pemerintah, para pemerhati budaya, dan leluhur yang mewariskan ajaran tanpa pamrih. “Ajaran Samin tidak mengajarkan meminta. Ketika diberi dengan ikhlas, baru kami terima. Itu pesan leluhur,” katanya.

Kepada generasi muda Bojonegoro dan Indonesia, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam. Jika ada nilai Ajaran Samin yang dianggap kurang baik, silakan disampaikan. Namun jika dinilai baik, mari dijalankan bersama. Sebab Samin berarti sami-sami atau semua sama. Dan pada akhirnya, tujuan dari seluruh ajaran itu hanya satu yakni mencari ketenteraman hidup.[zul/nn]