Manfaatan Bahan Sisa Pangan Lokal, Sherly Rahayu Olah Bekatul Menjadi Crepe Roll Cake yang Gurih Alami

Redaksi
30 Jan 2026
54 seen

Manfaatan Bahan Sisa Pangan Lokal, Sherly Rahayu Olah Bekatul Menjadi Crepe Roll Cake yang Gurih Alami

Bojonegorokab.go.id – Inovasi olahan sisa pangan kembali lahir dari generasi muda Kabupaten Bojonegoro. Sherly Rahayu Retnoningtyas, mahasiswi asal Desa Semenpinggir, Kecamatan Kapas, mengkreasikan Bekatul Crepe Roll Cake. Inovasinya ini pun meraih juara 2 Lomba Inovasi Olahan Sisa Pangan yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro melalui karyanya bertajuk 

Sherly yang saat ini menempuh pendidikan Program Studi S1 Gizi di Stikes Muhammadiyah Bojonegoro dikenal aktif dalam kegiatan akademik, organisasi, serta berbagai kompetisi inovasi pangan. Di tengah kesibukannya mengikuti perkuliahan dan pekerjaan sampingan, ia terus mengembangkan ide kreatif yang berorientasi pada pemanfaatan pangan lokal dan pengurangan limbah pangan.

Inovasi Bekatul Crepe Roll Cake berangkat dari kepedulian terhadap pemanfaatan bekatul, hasil samping penggilingan padi yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak. Padahal, berdasarkan kajian gizi, bekatul memiliki kandungan protein, serat, dan antioksidan yang cukup tinggi serta berpotensi diolah menjadi pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat.

Dalam proses pengolahannya, bekatul terlebih dahulu melalui tahap sterilisasi dengan cara dikukus pada suhu 100 derajat Celsius selama 30 menit untuk memastikan keamanannya. Selanjutnya, bekatul disangrai pada suhu 70 hingga 90 derajat Celsius guna mengurangi kadar air sebelum dihaluskan menjadi tepung. Tepung bekatul kemudian dicampurkan dengan susu, telur, dan mentega untuk menghasilkan adonan crepe yang tipis, lentur, dan memiliki cita rasa gurih alami.

Crepe yang telah matang kemudian digulung bersama whipcream dan potongan stroberi segar sehingga menghasilkan sajian dengan perpaduan rasa manis, gurih, dan segar. Dengan tampilan yang modern dan rasa yang familiar, inovasi ini dinilai mudah diterima konsumen tanpa meninggalkan nilai gizi dari bahan dasar bekatul.

Meski demikian, Sherly mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan inovasi ini, terutama dalam mengubah persepsi masyarakat bahwa bekatul hanya layak digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu, proses sterilisasi yang tepat serta teknik penyajian agar kualitas produk tetap terjaga juga menjadi perhatian tersendiri.

Melalui capaian tersebut, Sherly berharap Bekatul Crepe Roll Cake dapat menjadi contoh bahwa sisa pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai gizi sekaligus bernilai ekonomi. 

Ke depan, ia berencana mengembangkan variasi rasa, meningkatkan kualitas tampilan dan tekstur, serta menjajaki peluang produksi skala kecil sebagai camilan sehat berbasis pangan lokal.

Prestasi ini sekaligus menunjukkan dukungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dalam mendorong inovasi pangan berkelanjutan serta peran aktif generasi muda dalam mengangkat potensi lokal daerah.[zul/nn]

Pemkab Bojonegoro Optimis Angka Kemiskinan Turun Menjadi 10,55 % Tahun 2026

Bojonegorokab.go.id - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan penurunan angka kemiskinan sebesar 0,94 persen pada tahun 2026. Target tersebut setara dengan pengurangan sebanyak 4.310 Kepala Keluarga (KK) atau 11.854 jiwa, sehingga angka kemiskinan Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2026 ditargetkan berada di angka 10,55 %.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, menjelaskan bahwa pada tahun 2025 angka kemiskinan Kabupaten Bojonegoro tercatat sebesar 11,49 % atau setara 144.900 jiwa. Dengan target penurunan tersebut, diharapkan pada tahun 2026 jumlah penduduk miskin dapat ditekan menjadi 133.046 jiwa.

Ia menambahkan, Pemkab Bojonegoro terus memperkuat penggunaan basis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang memuat kondisi sosial ekonomi penduduk. Basis data tersebut telah dipadankan dengan berbagai sumber. Yakni dari DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), P3KE (Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem), serta REGSOSEK (Registrasi Sosial Ekonomi).

“Basis data ini digunakan untuk digunakan mendukung keterpaduan program pembangunan nasional dan sinergi antar kementerian, lembaga dan pemerintah daerah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan yang terukur dan berkelanjutan,” jelasnya Jumat (30/1/2026).

Sebagai langkah konkret, Pemkab Bojonegoro melakukan percepatan pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) bekerjasama dengan BPS Kabupaten Bojonegoro melalui kegiatan bimbingan dan pelatihan petugas pendataan di seluruh wilayah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di 430 desa dan kelurahan dengan waktu pelaksanaan mulai 14 Januari hingga 16 Februari 2026.

Pelaksanaan pemutakhiran data ini melibatkan 28 Camat sebagai Koordinator Kecamatan, 430 Petugas Koordinator Desa/Kelurahan, serta 2.580 Petugas Pencacah Data Lapangan. Dalam proses survei, petugas pencacah akan memotret kondisi riil sosial ekonomi masyarakat di lapangan.

“Data yang dikumpulkan akan diolah dengan metode statistik sehingga data menjadi informasi, dan informasi tersebut menjadi dasar pengambilan kebijakan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro,” pungkas Agus.

Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Pemkab Bojonegoro optimistis target penurunan angka kemiskinan tahun 2026 dapat tercapai melalui sinergi program pemerintah daerah dan dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Maka pengentasan kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama semua Dinas dan Badan dalam bentuk bansos, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan sosial,” pungkasnya. [zul/nn]