Waspada Gangguan Penciuman, Ini Tips Ketahui Gejala dan Penanganan dari Dokter Spesialis THT RSUD Padangan-Bojonegoro

Redaksi
28 Feb 2026
18 dilihat

Waspada Gangguan Penciuman, Ini Tips Ketahui Gejala dan Penanganan dari Dokter Spesialis THT RSUD Padangan-Bojonegoro

Bojonegorokab.go.id – Hidung ternyata merupakan alarm alami bagi tubuh kita. Sehingga menjaga kesehatan hidung menjadi hal penting, terutama mengetahui gelaja gangguan penciuman dan mengatasinya dengan benar. 

“Banyak masyarakat menyepelekan gangguan penciuman, padahal hidung adalah alarm alami tubuh. Jika tidak berfungsi, risiko bahaya bisa tidak terdeteksi,” kata dr. Netiana, Sp.THT-KL, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan–Bedah Kepala Leher dari RSUD Padangan, Bojonegoro dalam talkshow SAPA! Malowopati FM, Jumat (27/2/2026).

Dalam talkshow edukasi kesehatan bertajuk “Mencium Bahaya! Saat Hidung Tak Lagi Menjadi Alarm Alami” ini, dr. Netiana menjelaskan bahwa gangguan penciuman atau anosmia masih sering dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, fungsi penciuman memiliki peran penting sebagai sistem peringatan dini tubuh terhadap bahaya di sekitar, seperti kebocoran gas atau makanan basi.

Ia menyebutkan, penyebab paling sering gangguan penciuman adalah infeksi saluran pernapasan atas. Selain itu, kelainan anatomi seperti sekat hidung bengkok, adanya sumbatan tumor, hingga pembesaran jaringan akibat benturan juga dapat mengganggu penghantaran rangsang bau ke saraf. 

Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa membaik, terutama jika disebabkan infeksi atau gangguan anatomi yang masih dapat ditangani. Namun pada cedera kepala berat yang merusak saraf, gangguan bisa bersifat permanen. Begitu pula pada kelainan bawaan sejak lahir.

Faktor usia lanjut secara alami juga menyebabkan penurunan fungsi saraf penciuman. Gaya hidup seperti merokok dalam jangka panjang turut memperburuk kondisi tersebut. Selain itu, infeksi virus termasuk covid-19 pernah menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kehilangan penciuman.

Gangguan penciuman juga berkaitan erat dengan gangguan pengecapan dan dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk waspada apabila penciuman tidak kembali normal setelah pilek atau flu sembuh.

“Jika pilek sudah membaik tetapi penciuman belum kembali, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya,” tambah dr. Netiana.

Pada anak-anak, gangguan penciuman yang terjadi pada satu sisi hidung perlu dicurigai sebagai kemungkinan adanya benda asing. Sementara keluhan hidung berbau dapat disebabkan oleh infeksi sinus, gangguan gigi, maupun alergi yang menyebabkan penumpukan cairan.

Sebagai upaya menjaga kesehatan hidung, masyarakat dianjurkan segera berobat saat mengalami infeksi, tidak terlalu sering mengorek hidung, serta melakukan cuci hidung sesuai kebutuhan medis. Lingkungan ber-AC yang terlalu dingin juga dapat menyebabkan hidung kering karena lendir mengering, sehingga penting menjaga kelembapan saluran hidung.

Melalui siaran ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa gangguan penciuman bukan sekadar keluhan ringan, melainkan kondisi yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan dan keselamatan. [vyy/ai/nn]