Waspada Campak, Ini Tips Penanganan yang Benar Menurut Dokter RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro
Bojonegorokab.go.id – Penyakit campak kembali menjadi perhatian di tahun 2026. Meski bukan penyakit baru, penyebarannya yang masih terjadi menunjukkan bahwa campak belum sepenuhnya terkendali. Hal ini disampaikan dalam talkshow radio program SAPA! (Selamat Pagi) Bojonegoro yang disiarkan melalui Malowopati FM bersama host Lia Yunita dan narasumber dr. Khairiyah Amalia, Sp.A dari RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Rabu (08/04/2026).
Dalam pemaparannya, dr. Khairiyah menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus measles dan tidak bisa dianggap remeh.
“Campak itu kelihatan ringan, tapi tidak bisa disepelekan. Apalagi jika sudah menimbulkan komplikasi hingga ke otak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa campak tidak hanya menimbulkan ruam pada kulit, tetapi juga dapat menyerang sistem pernapasan hingga menyebabkan batuk, bahkan berisiko menimbulkan ensefalitis atau peradangan otak yang dapat berujung kejang.
Tingginya perhatian terhadap campak di tahun 2026 disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan imunisasi secara lengkap, termasuk akibat penundaan selama masa pandemi COVID-19. Selain itu, kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi serta maraknya informasi hoaks mengenai vaksin juga turut memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi.
Di Kabupaten Bojonegoro sendiri, sepanjang Februari 2026 hingga saat ini tercatat terdapat lima kasus campak pada anak. Sebagian besar kasus tergolong ringan dengan masa perawatan sekitar tiga hingga lima hari. Namun demikian, potensi penularan tetap tinggi, tidak hanya pada anak-anak tetapi juga orang dewasa, terutama ibu yang berinteraksi langsung dengan anak.
“Dalam hal ini balita menjadi kelompok yang paling rentan karena daya tahan tubuh yang masih lemah,” ungkapnya.
Gejala campak umumnya diawali dengan demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius bahkan bisa mencapai 40 derajat, disertai batuk dan pilek. Tanda khas lainnya adalah munculnya bercak Koplik di dalam mulut yang menyerupai sariawan, kemudian diikuti dengan ruam pada kulit.
“Saat gejala mulai muncul, penularan sudah bisa terjadi, bahkan sebelum terdeteksi. Satu anak bisa menularkan ke 10 sampai 15 anak lainnya melalui batuk atau bersin,” jelas dr. Khairiyah.
Ia juga menjelaskan perbedaan ruam campak dengan penyakit lain. Pada campak, ruam muncul saat demam masih tinggi dan menyebar ke seluruh tubuh. Sementara pada penyakit lain seperti roseola, ruam justru muncul setelah demam menurun.
Melalui kesempatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala campak serta memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sebagai langkah pencegahan utama. Edukasi yang benar dan bersumber dari tenaga kesehatan menjadi kunci dalam melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini. [vyy/ai/nn]