Karakter Anak Tak Bisa Dibentuk Secara Instan, Ini Tips Pendidikan Guru TK Dharma Wanita

Redaksi
07 Jun 2026
32 dilihat

Karakter Anak Tak Bisa Dibentuk Secara Instan, Ini Tips Pendidikan Guru TK Dharma Wanita

Bojonegorokab.go.id – Pendidikan karakter pada anak tidak dapat dibentuk secara instan. Dibutuhkan proses panjang, keteladanan, serta sinergi antara sekolah dan keluarga agar nilai-nilai positif dapat tumbuh dan melekat dalam diri anak sejak usia dini.

Hal tersebut disampaikan seorang guru sekaligus Kepala TK Dharma Wanita Kabunan, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Siti Mualifah dalam talkshow radio Malowopati FM, Minggu (7/6/2026). Perempuan yang telah mengabdikan diri selama 20 tahun sebagai guru dan kepala sekolah itu menegaskan bahwa peran guru taman kanak-kanak sangat penting dalam membentuk fondasi karakter anak.

Menurutnya, guru TK merupakan "arsitek karakter" yang setiap hari mendampingi dan mengarahkan anak-anak dalam berbagai aktivitas pembiasaan positif. Namun sebelum menanamkan karakter kepada peserta didik, seorang guru harus lebih dahulu mampu menjadi teladan.

"Karakter tidak bisa langsung menular kepada anak. Karakter itu harus tercermin terlebih dahulu dalam diri guru. Guru menjadi cermin dan teladan bagi anak-anak," ujarnya.

Di TK Dharma Wanita Kabunan, pembentukan karakter dimulai dari rutinitas para pendidik. Sejak pukul 06.00 WIB, kepala sekolah dan guru melaksanakan sholat dhuha serta membersihkan lingkungan sekolah. Setelah itu, pada pukul 07.00 WIB anak-anak mulai mengikuti berbagai kegiatan pembiasaan, seperti salat dhuha, murojaah surat pendek, menghafal doa-doa harian, hingga hafalan hadis pendek.

Melalui rutinitas tersebut, sekolah berharap anak-anak memiliki karakter religius yang tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat dipraktikkan di rumah dengan pendampingan orang tua.

Selain nilai religius, sekolah juga membiasakan berbagai sikap positif dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajarkan budaya antre, mulai dari melepas dan menaruh sepatu pada tempatnya hingga menunggu giliran dalam berbagai kegiatan. Mereka juga mendapatkan simulasi tentang sopan santun kepada orang tua dan orang yang lebih tua, cara menghargai orang lain, serta kedisiplinan yang diterapkan dengan penuh kasih sayang.

Pembelajaran karakter juga dilakukan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajarkan cara menerima dan menjamu tamu, membantu pekerjaan rumah seperti mencuci piring, hingga menanamkan nilai kejujuran melalui simulasi ketika menemukan barang yang bukan miliknya.

"Karakter anak akan tumbuh pelan tetapi pasti. Prosesnya panjang dan sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterima anak setiap hari," jelasnya.

Siti Mualifah menambahkan, keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah. Dukungan dan apresiasi orang tua terhadap setiap perkembangan positif anak juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri dan karakter yang baik.

Karena itu, ia mengajak seluruh orang tua untuk terus memberikan contoh perilaku yang baik di rumah serta membiasakan empat "kata ajaib" dalam kehidupan sehari-hari, yaitu maaf, minta tolong, terima kasih, dan permisi.

"Guru harus memiliki akhlak, ilmu, dan sikap yang mulia agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat dibawa dan diterapkan anak hingga di lingkungan keluarga maupun masyarakat," pungkasnya.[zul/nn]